fahmy farid p.

“Sejarah merupakan sekelumit potret tertutup yang ‘tak satu’. Ke-aku-an yang tertanam dalam bongkahan jiwa manusia, menyeruak sebagai `pedati` yang terus mengikuti laju seruang pekat-geliat gerobak sejarah peradaban. Sisi kemelut dialektika-materi-falsafi ini disajikan sesosok Adonis dalam ‘menelanjangi’ puing-puing pembentuk sejarah peradaban Arab-Islam yang tercecer. Bangsa yang telah mengalami transformasi paradigma, dari logika waktu (keniscayaan sejarah-empirik) menjadi logika wahyu (keniscayaan iman). Itulah oase pembuka sekaligus rangsangan presentator, Khozin Dipo, disela dahaga kawan-kawan LAKPESDAM untuk segera merajut sepihan ‘imaji-kontemplatif’ yang terekam dalam tiap baris kata buku al-Tsâbit wa al-Mutahawwil, sebuah disertasi yang dia selesaikan saat mengenyam pendidikan di fakultas sastra, Beirut. Diskusi pergulatan lintas ide ini diadakan di Sekertasriat PCINU Mesir; 7 Mret 2010, yang dimulai pada pukul 17.30 WIK. dengan rekan Fahmy Farid el-Sundani sebagai moderator.


Dialektika al-Tsâbit dan al-Mutahawwil

Dengan ucap mula yang mengalir begitu lirih nan apik tersaji, Rekan Khozin mencoba mengurai benang kusut pembacaan sejarah dari titik tolak masuknya agama sebagai awal problematika peradaban Arab-Islam atas sebuah percikan ‘kegelisahan tak terkendali’. Islam menyelusup relung tatanan sosial jahiliyah sebagai nilai baru yang memutus trauma Bangsa Arab terhadap masa lalunya nan kelam. Kungkungan realitas dialektika manusia dengan ruang waktu, telah memunculkan ragam noktah pembahasan terhadap rentetan fenomena kesejarahan. Secara garis besar, tipologi fenomena ini terbelah menjadi dua sisi ‘struktur kepribadian’ yang senantiasa berdialektika, antara salafi-konservatif yang memposisikan masa awal Islam sebagai teropong peradaban Arab asli dengan menggandeng turats yang ‘belum tuntas’ untuk mengawal laju dinamika peradaban, dengan kontemporer-modernis yang mengasumsikan turats sebatas sisa-sisa ‘usang nan lapuk’ warisan peradaban.


Pada tahun 1930 M., Ali Ahmad Sa`ad Asbar (yang dikenal dengan nama pena Adonis) dilahirkan di bumi Lattakia-Syiria, sebuah kota terpencil yang jauh dari dunia intelektual. Walaupun kondisi sosial yang ‘buta peradaban’ dan latar belakang keluarga tani, hal ini tak lantas menyurutkan semangat tumbuh-kembangnya. Ia sama sekali tak menyerah pada kenyataan, tanpa salah asuhan. Kepribadiannya terancang apik dalam asuhan sang ayah, sesosok agamawan berlatar belakang Syi`ah dan juga sastrawan. Dari ayahnyalah, Adonis mulai mengenal pujangga-pujangga legendaris bumi para nabi, diantaranya; Abu Tamâm, al-Mutanabbi hingga Syarif Ridla. Disamping itu, sosok Antun Sa`adah turut pula melukis paradigma intelektual Adonis yang mengenalkan pola baru dalam membaca mata rantai sejarah. Dari latar belakang inilah Sosok Adonis digambarkan rekan Khozin sebagai sosok budayawan yang cepat ‘bosan’, dengan menjelma menjadi pribadi berprinsip yang berdiri tegak menantang kenyataan.


Melacak lebih dalam ke jantung pemikiran Adonis, rekan Khozin memaparkan analisa terhadap buah pena Adonis mulai dari Qashâid Ûlâ (dicetak pada tahun 1956 M.) hingga al-Muhith al-Aswad (2005 M.). Antologi rekaman imajinasinya mengalami titik kulminasi pada karya monumentalnya, al-Tsâbit wa al-Mutahawwil (2001 M.) yang merupakan tetralogi analisis bongkahan sejarah Arab-Islam, khususnya satstra. Lain pada itu, rekan Khozin yang ditahbiskan kawan-kawan LAKPESDAM sebagai representasi pujangga Masisir kontemporer juga melakukan penekanan analisis terhadap buku Aghânî Mihyâr al-Dimasyqi, sebagai karya sastra yang mencoba ‘menceraikan diri’ dari belenggu puisi klasik, sekaligus ‘bersenggama’ dalam harmoni semiotik sastra kontemporer. Penekanan juga dilakukan dalam mendedah buku al-Shûfiyah wa al-Sûryâliyah (1992 M.) yang menyoroti persenyawaan antara paradigma sufistik dengan surealistik.


Lebih lanjut, telisik kritis terhadap magnum opus-nya, presentator kita mencoba ‘menelanjangi’ dari sisi analisa historikal-tautologis kemunculan Islam, sebuah kesadaran bersejarah sebagai sesuatu yang ‘pasti’ ada. Bagi Adonis, peradaban Islam, pada dasarnya merupakan substansi potret sosio-kultur sebagai starting poin dalam melukiskan sisi kesejarahannya, walaupun secara sturturalistik-temporal, lebih dahulu masa jahiliyah. Dari sini, ia menjadikan peradaban Islam sebagai sesuatu yang bersifat ibda` (asal-muasal pembentuk peradaban Arab), bukan ittiba` (hasil bentukan masa jahiliyah). Unsur ini diilustrasikan layaknya dinamika proton dan neutron pembentuk atom. Hanya saja, pembacaan kesejarahan Adonis berkutat pada dzawâhir al-tsaqâfah (permukaan peradaban) dan abai terhadap fakta-fakta sejarah mendasar. Hal ini senafas dengan Kritik Rifa`at Salim atas pembacaan Adonis yang sama sekali tidak memperhatikan faktor ekonomi dan sitsem kelas, sehingga terminologi al-tsabit dan al-mutahawwil terkesan ‘ambigu’, karena ada dialektika marxis-strukturalis yang ‘tidak disadari’. Pamungkas, rekan Khozin menilai bahwa Adonis dirasa lemah dalam memahami al-mutahawwil sebagai entitas yang benar-benar mandiri.


Kala senja mula mencumbu kerontang Kairo, rekan Khozin Dipo mempresentasikan makalah –dalam bahasa kawan-kawan lainnya adalah prosa pemikiran, cukup memberikan potret umum pemikiran Adonis, dalam tempo kurang-lebih tiga puluh menit. Moderator kemudian mengalokasikan waktu sekitar 20 menit untuk melaksanakan Sholat Magrib.


Hiruk-Pikuk Dialektika Diskusian

Dengan pemilihan diksi makalah ‘beraroma’ prosa yang cukup menggugah sekaligus menggelitik ‘gairah’ kawan-kawan diskusian, rekan Nur Fadlan mencoba menelusuri jejak-jejak pemikiran Adonis. Rekan kita yang notabene ber-gerne syari`ah secara akademik, mencoba menelisik terma al-Tsâbit wa al-Mutahawwil dari sisi hukum. Dengan menggunakan majas alegori, ia menlukiskan bahwa terminologi al-Tsâbit wa al-Mutahawwil laiknya sebuah kulkas yang diisi dengan ragam pangan. Seiring perjalanan dinamika waktu, pada akhirnya pangan tersebut akan mengalami pembusukan, sehingga perlu ‘dikebumikan’ (al-mutahawwil), dan pangan yang awet (al-tsâbit) tetap dijaga dan dirawat sebagai akar tradisi. Dari sini, perlu adanya ‘pembacaan kedua’ terhadap hukum-hukum yang usang ditelan perkembangan zaman. Karena, tuntutan perbedaan tempat entitas masyarakat akan melahirkan pemikiran dan kongklusi hukum yang berbeda pula. Dalam kritiknya terhadap Adonis, ia menyayangkan sikap Adonis yang melakukan simplifikasi terhadap fakta-fakta kesejarahan dengan terlalu tergesa-gesa memutus masa jahiliyah dalam dinamika peradaban Arab-Islam, mengingat ranah sejarah yang terlampau luas. Di akhir orasinya, ia berasumsi bahwa kehadiran agama yang dipahami secara rigid telah ‘mematikan’ filsafat logika arab, terjajah oleh teks-teks keagamaan.


Sementara Rekan Fadlan mengimajinasikan al-Tsâbit wa al-Mutahawwil pada logika kulkas, rekanita Mei Rahmawati mengilustrasikannya dengan logika ‘cicak’. Perangkat self defence (sistem pertahanan diri) pada cicak dengan memotongkan ekornya akar mampu bertahan dalam lingkungan se-ekstrim apapun, sepatutnya diterapkan pula pada lokus syari`ah agar adaptif terhadap dinamika sosioal masyarakat (shâlih li kulli zamân wa makân). Sehingga, sekira tidak cocok –bahkan mengancam- dengan nilai substansial Islam, maka perlu –harus- ‘disingkirkan’. Ia juga menilai bahwa Adonis menggunakan pendekatan sastra untuk menceburkan diri pada realitas, dimana karya-karyanya kental sekali dengan nuansa estetika-imajinatif-kontemplatif.


Selanjutnya, rekan Ahmad Muhammad mencoba ‘menggerayangi’ Adonis dari sisi lingkungan sosial-kultur pembentuk pribadinya. Pemikiran-pemikiran Adonis yang tertuang dalam magnum opus-nya sangat dipengaruhi oleh ma`rifah shûfiyah, dimana terjadi dialektika ‘intim’ antara `âlam khayâliy (nalar imajinatif) dengan `âlam mitsâliy (nalar realitas). Menurutnya, Adonis ingin melepaskan diri dari belenggu teks yang tidak membebaskan. Hanya saja, para pemikir dengan latar belakang penyair (dalam hal ini Adonis) acap kali terkungkung dalam kubangan wacana, tanpa menggandeng tindak nyata. Dari sini, karya sastra Adonis diposisikan sebagai pembaca peradaban (lahir dari dinamika kenyataan) belaka.


Hal berbeda coba ditawarkan rekan Subhan Ashari. Ia menganggap terminologi al-Tsâbit wa al-Mutahawwil pada prinsipnya merupakan kritik terhadap kelompok-kelompok literalis teks, seperti Ibn Hazm dan Ibn Taimiyah. Pioner-pioner literalis ini memandang segala fenomena sosial dengan kacamata teks statis. Disamping itu, rekan Subhan mengklasifikasikan metode pembacaan teks (analisa teks) ke dalam dua bentuk; Metode dakwah dan metode ilmiah. Metode dakwah acap kali berenang dalam samudra irasional, karena titik kulminasi dari metode ini hanyalah bagaimana tujuan tercapai, ideologisasi. Maka, ia menggolongkan buku al-Tsâbit wa al-Mutahawwil –bahkan lebih jauh al-Qur`an, sebagai teks dakwah, karena cita rasa yang ditawarkan lebih bersifat pembacaan ‘hiperbolik’ sejarah, irasional. Adapun metodologi ilmiah lebih mengedepankan validitas data-data sejarah, rasional dan data-data empirik. Penelusuran akar sejarah dengan metode kedua ini dirasa mampu menggiring nalar-kontemplatif pada ranah yang riil, sehingga pemahaman agama akan mampu mengawal laju-kembang fenomena sosial-kemasyarakatan.


Suasana hangat nan damai ruang diskusi, dibumbui keanggunan diksi kata yang dicomot rekanita Bangun Prastiwi Zahra melarutkan kawan-kawan LAKPESDAM ditengah hening-pekatnya malam itu. Di awal orasinya, ia mengurai terminologi al-Tsâbit wa al-Mutahawwil pada pemilihan istilah ‘keabadian atas perubahan’ (al-Tsâbit) dan ‘perubahan atas keabadian’ (al-Mutahawwil). Melacak jejak ke-jumud-an Bangsa Arab dapat ditelusuri dari konstruk pemikiran yang memposisikan agama sebagai identitas Bangsa Arab. Paradigma ini menggeret pada paradigma ‘penguncian’ wacana diskursus keilmuan produk peradaban lainnya. Padahal, Islam adalah ‘sesuatu’ (syaiun) dan peradaban Arab adalah sesuatu lainnya (syaiun âkhar). Sedangkan kemunculan Islam di tanah Arab hanyalah sebatas starting poin, tidak lebih!. Pembacaan Adonis oleh rekanita Bangun tidak hanya berkutat pada tatanan teoritis belaka. Ia mencoba mengaplikasikannya dalam bentuk nyata, dengan mencontohkan kondisi perfilman Indonesia pra-Petualangan Sherina, dimana masa itu terjadi kemandegan ruh-ruh berkarya. Namun pasca film tersebut, ruh itu kembali muncul dalam bingkai kebebasan berekspresi. Dari sini, rekanita Bangun memposisikan teks (al-tsâbit) sebagai kontrol terhadap kebebasan (al-al-mutahawwil). Karena, kebebasan tanpa kontrol hanya akan memunculkan masalah-masalah yang kurang –bahkan tidak- substansial.


Senada-seirama dengan rekanita Bangun, rekan Nova Burhanudin berasumsi bahwa manusia selayaknya diberikan kebebasan sepenuhnya, karena ada sisi lain yang akan menghentikan itu semua, yaitu sifat lemah manusia yang berperan sebagai kontrol itu sendiri. Setelah itu, rekan Nova membaca Adonis melalui prespektif Goenawan Mohamad yang menilainya sebagai sosok progresif dan memiliki semangat berubah. Begitu pula, penerapan al-Mutahawwil (kebebasab berubah) harus digandeng dengan pendekatan spiritual (logika agama-wahyu) agar tidak tercerabut dari akar tradisi dan ruh peradaban. Rekan Nova mengkomparasikan pemikiran Adonis dengan Ibn `Arabi dimana tidak ada yang absoulut (al-tsâbit) kecuali Allah swt. Terminologi al-Tsâbit wa al-Mutahawwil hanyalah sebatas permainan kata, karena masih bisa dikompromikan secara evolutif, dimana keduanya saling membentuk. Dalam bukunya, ia hanya memaparkan ‘kegentingan’ yang akan terjadi jika berpijak sebatas pada wacana klasik (turats-sejarah), sehingga teks akan bertransformasi ke dalam bentuk ‘sesembahan’ belaka.


Adapun rekan Ronny El Zahro, sosok pengagum marxis ini, menelisik potret Adonis dari dialektika materialis-evolutif. Menurutnya, ada titik kesamaan antara sesosok Adonis dengan Hasan al-Banna. Lingkungan pembentuk keduanya sama-sama lingkungan tak berperadaban secara intelektual. Keduanya merupakan representasi produk pendidikan lokal, dimana Hasal al-Banna tidak pernah mengenyam ‘cita rasa’ pendidikan diluar peradaban arab. Dia hanya mencicipi pendidikan di universitas Dar al-`Ulûm. Tidak jauh berbeda, kematangan Adonis-pun terbentuk di lingkungan Syi`ah-Arab, walaupun sedikit lebih beruntung dari al-Banna, karena ia pernah menjamah diskursus epistemologi barat saat mengais ilmu di Prancis. Lebih jauh, rekan Ronny mencoba memetakan kensep al-Tsâbit wa al-Mutahawwil dengan menyitir ungkapan Soroush bahwa bahwa titik tolak konsep al-tsâbit berakar dari teks al-Qur`an, dimana teks keagamaan ini ‘mengkungkung’ ragam sastra Arab. Sedangkan al-Mutahawwil merupakan konteks yang selalu berubah. Sayangnya, dalam bukunya, Adonis sama sekali abai terhadap pembacaan strukturalis-materialistik. Terlalu banyak friksi-friksi sejarah yang serta-merta dibiarkan menggeletak. Kenyataan kontras dengan analisa yang dikembangkan Khalil Abdul Karim ataupun ‘dedengkot-dedengkot’ marxis lainnya.


Ditengah suasana yang nampak lelah, rekan Nora Burhanudin hardir untuk menyegarkan kembali wacana Adonis. Berbeda dengan rekan Ronny, ia membandingkan Adonis dengan sesosok Nietzsche ditilik dari pendekatan keduannya yang menggunakan perangkart sastra dalam membaca ragam fenomena. Kegagalan Adonis dalam melukiskan sejarah peradaban Arab-Islam terletak pada tidak ditemukannya ‘aroma’ konstruk pemikiran utuh. Disaming itu, pendekatan fenomenologis yang digunakan untuk ‘mengobok-obok’ sangat reduktif. Apalagi buku al-Tsâbit wa al-Mutahawwil kehilangan logika bahasanya ketika dianalisa menggunakan teropong Jack Derrida. Rekan Nora mencurigai bahwa latar belakang penyair itulah yang menjadikan pemikiran Adonis tidak ditemukan seutuhnya sama sekali, sehingga perlu alat bedah sosio-kultur dalam memahami ontologi pemikiran Adonis secara utuh.


Gayung bersambut, partisipan baru LAKPESDAM, rekan Hakim menganjurkan pendekatan sastra yang sejatinya mampu mendedah Adonis. dia mencontohkan adagium Adonis bahwa; ‘Jika kita tidak menciptakan tuhan, kita akan mati. Jika kita tidak membunuh tuhan, kita akan mati’. Diksi ini akan mengalami reduksi bahkan justifikasi yang melenceng dari jantung substansi makna yang dimaksud, ketika didedah dengan pendekatan luar korpus sastrawawn.


Walaupun dari awal hingga menjelang akhir, moderator merupakan sesosok yang ‘paling banyak cuap-cuap nggak jelas’, tapi mutlak ‘waktu ada dalam kuasanya’. Rekan el-Sundani mencoba ‘mendagangkan’ pembacaan lain terhadap Adonis. Ketidaksepahaman dengan rekan Ahmad yang menganggap bahwa kesusastraan hanyalah pembaca peradaban (lahir dari dinamika kenyataan). Dengan menyerap konsep linguistika George Orwel bahwa jika saja pemikiran-kebudayaan bisa membentuk bahasa (kesusastraan hanyalah produk budaya), maka bahasa-kesusastraan mampu pula membentuk komunitas sosial. Dari sini karya Adonis tidak bisa disederhanakan sebatas perangkat sosial untuk membaca realiras-budaya, tetapi berfungsi pula sebagai pembentuk kultural, karena pada dasarnya bahasa-kesusastraan mempunyai ‘nilai penggerak’. Disamping itu, bagi rekan moderator, Adonis mempunyai sisi keterpengaruhan yang cukup kental dengan pemikiran politik Syi`ah sebagai unsur yang ‘tak sadar’. Hal ini terlihat ‘latah’ ketika mendedah pergolakan politik Islam pasca Wafatnya Nabi saw.


Menjelang akhir diskusi, waktu sepenuhnya milik koordinator, rekan Hadidul Fahmi sebagai tokoh muda kharismatik LAKPESDAM. Petuah awal yang terlontar adalah ketidaksepakatan dengan rekan Nora yang mengasumsikan bahwa Adonis menggunakan perangkat fenomenologi. Hal ini bisa dilacak ketika dikomparasikan dengan fenomenologi ala Hasan Hanafi, dimana ada diferensiasi akut antara keduanya. Rekan Fahmi lebih cenderung menggolongkan Adonis sebagai sosok yang cenderung menggunakan nalar-imajinatif-kontemplatif (khayâly) dalam pendekatan kesejarahannya. Menurutnya, pembacaan Adonis ketika merefleksikan stagnasi peradaban Islam karena kecenderungan itba`, bukan ibda`. Stagnasi ini berakar pada pembacaan statis wahyu, sehingga perlu adanya hadm al-dîn (dekonstruksi agama) dari bentuk statis menuju bentuk transformatif, dari teologi pengekangan menuju teologi pembebasan. Maka tak heran jika Adonis dituduh sebagai orang atheis dan diusir dari tanah kelahirannya. Dari sini, rekan Fahmi berasumsi bahwa ketika ingin maju, maka perlu –bahkan harus- membunuh sejarahnya, karena pada dasarnya al-rujû` haruslah kedepan untuk menemukan identitas, bukan al-rujû` ilâ al-mâdli (menoleh ke belakang untuk mengais sisa-sisa usang peradaban gemilang).

***

Hampir lima jam eksplorasi Adonis ini berlangsung. Pendekatan yang cukup beragam membuat suasana diskusi lebih hidup. Nuansa yang akan selalu tertanam dan mengkarat dalam alam bawah sadar kita sebagai penggalan cerita yang akan terkenang nan terindukan, romansa masisir.

0 Responses

Post a Comment