fahmy farid p.

Veronica sayang, bagaimana jika malam ini kita lanjutkan imajinasi kita. Toh tak ada ruginya kan. Malam lalu kita sepakat akan membiarkan ontic menari-nari intim dalam dimensinya sendiri sebagai semesta yang ‘ada’, lalu ditarik perlahan menuju batas ‘waktu’ dimana sesiapa sadar diri. Dan melalui penjajaran-penjajaran entitas nyata dalam keseharian kita, menegaskan apa yang di mula kita sebut sebagai potret kebermungkinan, ontic menjelma beings. Ia bukan lagi tentangDasein, atau tentang being of beings, tapi ini tentang beings.


Mungkin melalui penjajaran-penjajaran entitas ini, kamu bisa paham apa itu beda, bahwa kita ‘ada’, semua, memusat pada esensi yang sama, sebagai manifesto nyata dari ontic itu. Pada titik ini, identifikasi onologis menjadi sesuatu yang mungkin menjamahnya, karena toh ia sudah melibatkan dirinya dengan ‘waktu’. Tapi Veronica, kita butuh pijakan pertama untuk setidaknya mengungkapkan, misteri yang selama ini sangat spekulatif, atau bisa dikatakan terkesan dogmatik berbau holistik; entitas yang merelasikan antara ontic dengan spatio-tempora. Atau setidaknya kita bahasakan ‘menguraikan ontic dalam dimensi tempora’.


Veronica, sebelum kau menjadi ‘gila’, kau harus mengerti terlebih dahulu kalaulah ontic sebagai sesuatu yang meng-‘ada’, nyata, terbungkus satu, menyatu, oleh apa yang Heidegger sebut ‘care’. Dengan ‘care’ ini, semesta di rawat sedemikian rupa sehingga apa yang 'menjadi' selalu didaku berasal dari akar yang sama, apapun itu bentuknya. Dan apa yang kita sebut sebagai kebermungkinan yang lusa dalam dimensi ontic, menemukan relasinya dengan dimensi aktualita, menegaskan keber-‘ada’-an dirinya.


Tapi harus juga dipahami sayang, bahwa yang satu adalah authentic, lantas lainnya inauthentic. Atau sederhananya aktualita hanyalah sebatas manifesto, imitasi atau apapun namanya itu. Karenaauthentic, ketika kita tarik ke garis yang tidak terikat ‘waktu’, ia hanyalah kebermungkinan itu, ia hanyalah ontic, sebatas Dasein. Ia bisa memilih dirinya sendiri, bisa saja menjadi ada, mungkin juga semerta tiada. Bolehlah juga kalau kita namakan imajinasi. Sedangkan aktualita, tidak seperti itu. Ia telah memilih, jatuh hati kepada bentuk yang imitasi.


Veronica sayang, sebelum kita benar-benar menjadi gila, baiknya kita bobo dulu aja. Selamat bermimpi sayang!

0 Responses

Post a Comment